jump to navigation

Inspirasi

Economy – Kisah Sukses

Steve Jobs Duduki Peringkat Teratas

Harvard Business Review (HBR) baru saja merilis 100 Chief Executive Officer (CEO) terbaik di dunia. Di antara 10 besar CEO terbaik itu,tujuh di antaranya berasal dari Amerika Serikat (AS) .

Di urutan pertama, CEO Apple Inc Steve Jobs dinobatkan menjadi yang terbaik menyisihkan bos-bos perusahaan elit lainnya. Di peringkat kedua terpilih CEO Samsung Electronic Yun Jong-yong, diikuti CEO perusahaan gas Rusia Gazprom Alexey B Miller, dan di urutan keempat CEO Cisco System John T Chambers.

Dalam survei tersebut, rata-rata CEO yang masuk 100 besar berusia 52 tahun dan menduduki orang nomor satu di perusahaan masing-masing minimal enam tahun.CEO Asia lain yang menempati 10 terbaik CEO dunia ialah Mukesh D Ambani, pimpinan Reliance Industries, yang ada di urutan kelima.

“Para CEO ini dinilai berdasarkan sumbangsih mereka atas hasil dalam jangka panjang. Rata-rata dari 50 CEO memberi hasil kepada perusahaan sebesar 32 persen per tahun,” kata HBR. HBR menambahkan,para CEO itu dinilai berhasil mengurangi efek buruk industri dengan tingkat pengembalian tahunan 30 persen.

Secara absolut, dalam 50 besar CEO itu bisa meningkatkan kekayaan pemegang saham rata-rata USD48,2 miliar. Uniknya lagi, dalam survei HBR, tingkat pendidikan atau keahlian akademis tidak berkorelasi dengan pencapaian dalam bisnis. Harvard mencontohkan, dari lima besar CEO terbaik,tiga CEO yakni Steve Jobs,Yun Jong-Yong,dan Alexey Miller tidak memiliki gelar akademis di bidang bisnis seperti MBA (master business administration).

Hanya Ambani dan Chambers yang bergelar MBA. Survei tersebut juga menyatakan bahwa kinerja CEO yang berasal dari kalangan internal perusahaan memiliki potensi lebih baik untuk mengembangkan perusahaannya. ‘’CEO yang dipromosikan dari dalam perusahaan cenderung memiliki kinerja lebih kuat daripada yang dibawa dari luar,” kata HBR.

Para CEO yang masuk daftar terbaik adalah mereka yang memimpin perusahaan pada periode 1996 – 2008 dan dianggap memberikan kontribusi positif kepada perusahaannya. Tak heran jika dari 10 besar CEO terbaik tidak seorang pun berasal dari China. H

Hal ini karena, posisi perusahaan-perusahaan China melakukan ekspansi pasca-2007 bahkan setelah krisis terjadi di akhir 2008. Periode waktu itu pula yang menyebabkan CEO-CEO papan atas lainnya seperti Bill Gates (Microsoft), Jack Welch (General Electric), Warren Buffet (Berkshire Hathaway’s), dan Larry Ellison (Oracle) tidak masuk daftar terbaik.

Terpilihnya Steve Jobs dalam urutan teratas CEO terbaik versi Harvard tidaklah terlalu mengherankan. Peranti-peranti telekomunikasi yang diciptakan perusahaannya mendapat sambutan yang baik dari pasar.

Sebut saja misalnya komputer Macintosh yang inovatif dan telepon seluler iPhone, serta pemutar musik iPod yang revolusioner. Sedangkan CEO Samsung Yun Jong-yon dinilai telah membuat keputusan penting pada kurun waktu 1996 – 2008.

Selama kurun waktu tersebut Yun berhasil membawa Samsung membuat televisi layar datar berpengaruh, produsen telepon seluler terbesar nomor dua di dunia dan produsen media penyimpanan (memory chip) terbesar. Yun yang meletakkan jabatannya tahun lalu juga mendapat penghargaan sebagai “Asia Businessman of The Year 2000″ dari majalah Fortune, “Asia Business Leaders Award 2002″ dari CNBC dan “Top 25 Manager of The Year 2003″ dari majalah Business Week.

“Kami mengukur kinerja berdasarkan standar yang ketat, tujuan, realitas pemegang saham dan perubahan nilai pasar,” kata HBR dalam laporannya. CEO lainnya yang termasuk 10 besar adalah John C Martin (Gilead Sciences), Jeffrey P Bezos (Amazon. com), Margaret C Whitman (EBay), Eric E Schmidt (Google), dan Hugh Grant (Monsanto)

——————————->>>>>>>>>>>
Eks Sopir yang Sukses Jadi Pengusaha Ritel
Selasa, 8 September 2009 – 12:14 wib
text TEXT SIZE :
Mukesh Jagtiani (Foto: The Times)

Mukesh “Micky” Jagtiani dikenal sebagai salah satu pengusaha ritel dunia. Dari imperium bisnisnya di bawah bendera Landmark Group, pundi-pundi kekayaannya ditaksir mencapai USD2,5 miliar (Rp25 triliun).

Kisah hidup Jagtiani tidak dilewati dengan mudah. Banyak hambatan dan rintangan yang mesti dia tempuh. Bahkan dia berkali-kali harus mengalami kegagalan dan kejatuhan. Di masa muda Jagtiani tergolong anak nakal. Pada usia 17 tahun dia gagal menyelesaikan pendidikannya di sekolah akuntansi di London.

Biaya kuliah yang diberikan keluarganya malah dihabiskan untuk mabuk-mabukan dan merokok. Malu kembali ke Kuwait, tempat keluarga besarnya tinggal setelah emigrasi dari India, dia mencoba bertahan hidup di London. Jagtiani rela menjadi sopir taksi dan rela tidur di mana saja. Saat hendak memutuskan untuk kembali ke Teluk, tragedi menghampirinya silih berganti.

Saudara laki-laki tertuanya, Mahesh, meninggal karena leukemia. Ayahnya menyusul meninggalkannya untuk selamanya karena diabetes beberapa bulan kemudian. Belum reda air mata, menyusul ibunya meninggal karena kanker. Saat itu Jagtiani baru berusia 21 tahun. “Saya menjadi yatim piatu,” ungkap Jagtiani mengenang.

Tak ada keluarga, pekerjaan, dan pendidikan mendorong Jagtiani kembali ke negara asalnya, India. Di negara asal nenek moyangnya itu Jagtiani mendapat dana warisan keluarganya sebesar USD6.000. Berbekal uang tersebut dia pergi ke Bahrain dan membuka toko pertamanya. Toko tersebut awalnya disewa oleh saudara laki-lakinya sebelum meninggal. Sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi alias baby shop adalah toko pertama yang dibuka Jagtiani pada 1973, atau setelah tragedi terus menjenguknya.

Toko tersebut menyediakan kebutuhan bayi para keluarga ekspatriat yang waktu itu membanjiri Afrika Selatan. Karena belum memiliki staf, Jagtiani mengerjakan semua operasional toko sendiri. Berbelanja, melayani, hingga mengepel toko lantai dilakukannya sendiri. “Saya benar-benar memulainya dari nol,” tutur Jagtiani.

Dia mengaku tak pernah meninggalkan pekerjaan kasar, bahkan hingga dia mampu menabung. Tak dinyana, dari sebuah baby shop kecil tersebut, suami dari Renuka Jagtiani dan ayah dari tiga anak itu kini menjelma menjadi seorang miliarder bisnis ritel dunia di bawah bendera Landmark Group yang berbasis di Dubai.

Lebih dari 840 toko kini telah dimilikinya dan tersebar di 10 negara, seperti di negara-negara Teluk, India, Spanyol dan China. Imperium bisnisnya bahkan bakal semakin tumbuh besar seiring rencana-rencana ke depan. Dikabarkan, Jagtiani berencana mengakuisisi aset bisnis ritel di Inggris dan Amerika.

Beberapa perusahaan ritel yang hendak dibelinya adalah Primark, New Look, dan Abercrombie & Fitch. Zara, Pull and Bear, serta Saks and Bloomingdales juga menarik minatnya.

Berkat kesuksesannya itu Jagtiani pun sempat mendapat beberapa penghargaan. Pada 2007 dia meraih penghargaan Retail Personality of The Year dalam penghargaan tahunan ritel di Timur Tengah.

Sukses tersebut membuat Jagtiani mendapat respek luar biasa di Dubai. Dia menjadi warga kehormatan di Dubai. “Tak seorang pun berani membuka mal di Dubai tanpa terlebih dulu meminta pendapat Micky. Ini karena semua menaruh hormat padanya,” kata sumber dekat keluarga kerajaan

—————>>>>>>>>>>>>>>>>
Sukses dari Merangkai Buah-buahan Segar
Jum’at, 9 Oktober 2009 – 14:00 wib
text TEXT SIZE :
Tariq Farid (Foto: inc.com)

Bagi kebanyakan orang, bisnis merangkai bunga mungkin merupakan hal biasa. Namun bisnis merangkai buah-buahan segar adalah hal yang tak biasa dan jarang ditemui.

Adalah Tariq Farid, warga Amerika Serikat (AS) yang menggeluti bisnis merangkai buah-buahan segar. Berkat bidang usaha itu, pria kelahiran Pakistan yang bermigrasi ke Amerika pada usia 11 tahun tersebut kini memetik “segarnya” keuntungan dari bisnisnya.

Di bawah bendera Edible Arrangements International (EAI), bisnis yang dikembangkan Tariq bisa disebut telah menjadi pemimpin pasar di bidangnya.

Tak aneh, pesanan merangkai buah-buahan, baik dari individu maupun korporasi, datang tiada henti. Konsumen merasa puas lantaran Edible selalu berusaha menyajikan bentuk desain terbaik dalam setiap rangkaiannya. Rangkaian buah-buahan segar dalam beragam desain nan cantik pun setiap harinya siap diantarkan ke pelanggan.

Edible Arrangements pertama kali didirikan pada 1999 dengan toko pertamanya yang didirikan di East Haven, Connecticut. Jika ditelusuri, ada tiga tren warga Amerika yang menginspirasi Tariq membuka usaha tersebut. Ketiga tren yang saling kait tersebut adalah peningkatan konsumsi warga Amerika akan buahbuahan segar, semakin menjamurnya toko-toko buah, serta meningkatnya pengeluaran warga Amerika untuk membeli hadiah.

Faktanya, insting bisnis lelaki yang sudah diperkenalkan dengan dunia entrepreneur sejak usia 17 tahun tersebut terbukti tepat. Sepuluh tahun sejak awal pendiriannya, Edible tercatat mampu meraih pendapatan senilai USD19,4 juta (Rp184,3 miliar) pada 2008. Angka tersebut jelas bernilai berkali-kali lipat dari modal awal yang digunakan Edible sebesar USD100.000 (Rp950 juta).

Malah, Edible terhitung telah mampu balik modal dalam kurun waktu enam bulan sejak awal didirikan. Berkat kesuksesannya, Edible mendapat anugerah sebagai salah satu lembaga bisnis yang memiliki pertumbuhan cepat di Amerika oleh majalah Inc. Edible juga menjadi satu di antara bisnis franchise terbaik dalam majalah Entrepreneur Franchise 500.

Untuk franchise, Edible mulai mengembangkan sistem bisnis tersebut pada 2001 dengan membuka toko di Waltham, Massachusetts. Tak kurang dari 10 tahun, gerai Edible telah mencapai 800 buah tersebar di AS, Puerto Riko, Kanada, Inggris, Dubai, Qatar, Arab Saudi, dan pasar internasional lainnya.

Selain bergerak dalam bisnis utama, yakni merangkai buah dan franchise, unit bisnis lain yang juga dijalankan Edible adalah bisnis camilan buah dengan mengusung bendera Frutation. Didirikan pada 2006, Frutation menyediakan buah-buahan segar siap saji. Beragam menu disajikan Frutation seperti sup buah segar yang dibuat langsung di hadapan konsumen, jus buah segar, salad buah, es krim buah, dan buah yang dicelupkan ke dalam cokelat.

Semua produk berasal dari buah-buahan segar ditambah bahan-bahan alamiah lainnya. “Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci saya meraih kesuksesan,” terang Tariq tentang prinsip hidupnya.

Tariq memang dikenal sebagai sosok pekerja keras. Saat masih remaja dia pernah bekerja di gerai McDonald’s untuk beberapa tahun. Dia menyerap banyak pelajaran tentang bisnis di gerai makanan cepat saji itu.

Tariq memulai pengalamannya dengan dunia entrepreneur saat berusia 17 tahun. Dia menggunakan uang pinjaman dari orangtuanya sebesar USD5.000 untuk mendirikan toko bunga. Usahanya terbilang sukses karena dalam kurun waktu dua tahun, empat toko lainnya berhasil didirikan.

Sebagai wujud rasa syukur atas kesuksesan yang diraihnya, Tariq tak lupa berbagi dengan sesama. Dia mendirikan Salma K Farid Academy, pusat komunitas dan pembelajaran gratis. Salma K Farid didedikasikan Tariq bagi mendiang ibunya yang telah menjadi inspirasi kesuksesannya.

————————–>>>>>>>>>>>>
Gitar Elektrik Mojokerto, Beradu dengan Pabrik
Kamis, 20 Agustus 2009 – 19:08 wib
text TEXT SIZE :
(Foto: Tritus Julan/Koran SI)

TAK sedikit home industry yang tumbang sejak krisis ekonomi global tahun lalu. Namun beberapa industri rumah tangga justru melejit. Salah satunya home industry gitar elektrik.

Barang hasil produksi home industry kerap kali diidentikan dengan kualitasnya yang rendah. Karena usaha ini tak banyak didukung dengan peralatan yang memadai, layaknya sebuah pabrik. Lantaran itu pula, produk industri rumah tangga ini selalu saja mendapati penghargaan yang rendah, termasuk harga barang yang dihasilkan.

Setidaknya, itu dirasakan salah satu industri rumahan gitar elektrik di Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Di tengah kondisi ekonomi yang serba tak menentu saat ini, mereka harus tetap bertahan. Tentunya, dengan banyaknya kendala yang dihadapi. Baik dari sisi kapasitas produksi, tenaga kerja maupun modal yang digunakan.

Di showroom milik Ashadi yang berukuran 20×30 meter dan berada di pinggiran Kali Brantas ini, geliat usaha masih tampak stabil. Dengan karyawan yang berjumlah 10 orang, Ashadi mampu menghasilkan 200 unit gitar elektrik berbagai tipe. Beberapa mesin dan peralatan produksi bertengger di tempat itu.

Lantas apa yang membuat usaha mikro ini masih tetap bergeliat? Banyak hal yang menjadi faktor. Salah satunya adalah daya beli masyarakat yang cenderung menurun terhadap produksi gitar pabrikan. Menyusul harga gitar impor yang terus melambung. Pangsa pasar yang dibidikpun terbilang tepat. Meski dengan kualitas yang terbilang bagus, produk Ashadi memiliki selisih harga yang jauh dengan gitar pabrikan. Meski ada beberapa material yang berbeda.

Bayangkan, Ashadi hanya menjual produknya dengan harga Rp400-Rp1,1 juta. Dari harga itu, Ashadi mampu mencetak barang yang nyaris sama dengan gitar pabrikan. Tentu saja, order setiap bulannya pun akan terus meningkat.

“Harga yang kami tawarkan memang jauh lebih rendah. Meski kami tak kalah bersaing soal kualitas,” kata Ashadi.

Gitar pabrikan kerap menggunakan kayu mahogani (mahoni) untuk sebagai bahan membuat body gitar. Sementara untuk membuat neck, pabrikan menggunakan kayu hard maple untuk tipe-tipe dan tertentu. Seperti jenis Ibanez dan Fender. Produk buatan Ashadi juga demikian. Dia menggunakan dua jenis kayu ini untuk bahan neck dan body. “Untuk kualitas kayu, produk kami sama dengan pabrikan,” tandasnya.

Yang membedakan, gitar-gitar buatannya menggunakan material pendukung lainnya dari pabrik lokal. Seperti pick up, bridge, tuning machines, dan beberapa material elektronik lainnya. Pilihan produk pabrikan lokal untuk jenis material ini tentunya disesuaikan dengan harga gitar yang akan dia jual.

“Itu kualitas standar. Dan produk di sini bisa customize. Jika ingin materialnya built-up, tentunya akan berpengaruh pada harga,” katanya.

Dengan keahlian para karyawan yang rata-rata korban PHK salah satu pabrik gitar di Mojokerto, Ashadi mampu membentuk produk yang ideal dan presisi, meski sampai saat ini dia tak memiliki merk atas produk-produknya itu. Kemampuan para karyawan yang memang telah makan asam garam di dunia industri gitar elektrik, mampu menutupi segala kekurangan yang berkaitan dengan produk.

“Kita memiliki semua ukuran gitar dengan berbagai merek dan bentuk. Sehingga hasilnya bisa presisi. Termasuk untuk teknik pengecatan, kami bisa klaim sama dengan pabrik,” ujarnya.

Selama dua tahun menjalani usaha ini, Ashadi memang tak berniat memunculkan merek. Dia hanya melayani pesanan sesuai dengan merek yang diminta. Tentu saja dia tak akan memasang merek gitar ternama. Menurutnya, ada beberapa distributor yang memiliki merek sendiri dan diproduksi di showroomnya.

“Ini soal hak paten. Saya hanya menerima gitar dengan tulisan merek yang bukan milik pabrikan. Meski kami bisa membuat tipe-tipe itu,” tandasnya.

Dari beberapa jenis konstruksi gitar, dia mengaku masih belum memproduksi gitar jenis thru neck. Selama ini dia memproduksi gitar dengan kontruksi set in dan bolt on. Dua model kontruksi ini dianggapnya lebih mudah diproduksi, lantaran peralatan yang dimiliki memang belum mencukupi. Tapi menurutnya, dua model jenis inilah yang banyak diminati pembeli.

“Karena dua jenis gitar itulah yang banyak dipakai,” ujar pria lulusan Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini.

Menurutnya, tak mudah memang mengalahkan kualitas gitar produksi pabrikan. Apalagi dengan peralatan kerja yang dimilikinya selama ini, meski beberapa proses produksi telah menggunakan mesin. Contohnya untuk membuat body dan neck. Namun hal yang membuatnya bisa bertahan dengan gencetan produk pabrikan adalah kualitas barang dan harga yang dipertahankan.

“Kami menggunakan pekerja yang telah memiliki pengalaman di pabrik. Sehingga kami lebih teliti dalam membuat produk. Dan harga kami masih sangat terjangkau semua kalangan,” tandasnya.

Kebanjiran Order

Usaha yang dijalani Ashadi ini terbilang sukses. Di tengah banyaknya home industry yang kesulitan memasarkan produk, kondisi itu justru berbalik. Bagi Ashadi, selama ini dia masih belum mampu memenuhi target pesanan dari beberapa distributor yang menjadi langganan. Produksi sebanyak 200 unit gitar sebulan dianggapnya masih jauh dari target.

“Sebenarnya bisnis ini masih memiliki banyak peluang. Saya tak sempat menyimpan stok. Berapapun produk yang saya buat, selalu habis untuk distributor. Dan semuanya adalah pesanan,” kata Ashadi.

Bukan pemasaran yang saat ini dikeluhkan. Selama ini, bisnis itu tak bisa berkembang pesat lantaran modal usaha yang minim. Saat ini dia telah memiliki aset sekitar Rp250 juta dan masih mampu memproduksi 200 unit gitar per bulan. Awal mendirikan usaha ini, ia bermodal Rp50 juta.

“Bahan baku tak jadi masalah. Hanya modal yang memang kurang,” keluhanya.

Saat ini kebutuhan utamanya adalah menambah tenaga kerja dan membeli beberapa unit mesin produksi. Secara otomatis jika dua kebutuhan itu terpenuhi, maka hasil produksinya juga akan berlipat. Menurutnya, dengan kualitas barang dan harga yang ditawarkan, bisnis ini tak akan sepi meski diterjang krisis ekonomi.

“Memang perlu tambahan modal jika ingin meningkatkan produksi. Di situlah kesulitan kami,” ujarnya sembari menyebut jika dirinya telah mampu menggaji 10 karyawannya sesuai dengan UMK Kabupaten Mojokerto sebesar Rp971.624.

Di mata pembeli, gitar buatan Ashadi ini terbilang laris. Dedy, salah satu distributor mengaku selama ini dia tak pernah kesulitan memasarkan produk yang dia dapatkan dari showroom milik Ashadi. Alasannya, produk tersebut memang masih mampu bersaing dengan produk pabrikan, yang saat ini harganya tak lagi terjangkau kalangan menengah bawah.

“Sejak lepas tahun 2005, gitar lokalan seperti ini memang banyak diminati. Produk dari China sudah tak lagi beredar, sehingga peluang produk lokal masih tinggi. Harga dan kualitasnya memang masih bisa bersaing,” terang Dedy.

Hanya memang harus pintar-pintar memilih bentuk dan tipe gitar yang akan dijual di pasaran. Menurutnya, tipe-tipe baru yang tanpa “menjiplak” bentuk gitar merek ternama akan susah laku dipasaran. Untuk menyiasati hal itu, produk yang dibuat harus semirip mungkin dengan merk kenamaan. “Masing-masing daerah berbeda. Yang banyak laku, tipe-tipe seperti Ibanez, Gibson, dan PRS. Tapi kita tak pernah memakai merek ini. Hanya bentuknya saja yang mirip,” tukasnya.

Dia mengakui home industry seperti ini memang masih memiliki peluang yang lebar. Menurutnya, sejauh ini dia masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan produk dalam jumlah yang banyak. Meski menurutnya ada beberapa home industry serupa di Mojokerto.

“Masih kurang. Dan dengan model yang seperti ini saja, masih banyak diminta pasar,” tegasnya sembari menyebut jika produk ini telah beredar di Jakarta, Bandung, Lombok, dan kota-kota besar lainnya.

——————->>>>>>>>>>>>
Berhasil Merawat Bisnis hingga Empat Dekade
Selasa, 8 Desember 2009 – 10:12 wib
text TEXT SIZE :
Margot Fraser (Foto: inc.com)

Margot Fraser (80) tak membayangkan usahanya berumur panjang. Birkenstock USA, perusahaan sepatu yang dirintisnya pada 1966, telah menjelma menjadi perusahaan besar dengan aset USD50 juta.

Seiring perkembangan pesat yang mampu diraih, perusahaan yang berpusat di Novato, California, Amerika Serikat (AS) itu kini mampu menjual produknya kepada peritel besar. Tak hanya itu, Birkenstock juga merambah bisnis makanan sehat.

Fraser memulainya dari sebuah ketidaksengajaan. Suatu ketika, dia mengunjungi sebuah spa milik warga Jerman. Saat mencoba sepatu di sana, dia merasakan kenyamanan memakai sepatu tersebut dan bahkan mampu mengembalikan bentuk jari-jari kakinya. Sepulang dari sana, tebersitlah niatan untuk turut memasarkan produk sepatu tersebut.

“Selama perang, kami tak pernah memiliki sepatu yang bagus. Tapi di sebuah spa Jerman tersebut saya merasakan kenyamanan saat memakainya. Saya kemudian berusaha menyurati sang pemilik apakah bisa ikut memasarkannya di Amerika.”

Gayung bersambut. Ternyata sang pemilik Birkenstock Jerman memberinya peluang untuk memasarkannya di AS. Pada awal memasarkannya memang terasa sulit. Dia berjuang mendatangi satu pameran ke pameran lain dan awalnya sedikit sekali warga AS yang mau membeli produknya.

Namun, usaha Fraser meyakinkan para calon pelanggannya tak pernah padam. Setiap ada kesempatan, dia berusaha memberikan pengetahuan tentang produk yang dipasarkannya. Satu per satu warga AS, terutama kaum perempuan, pun mau memakai produknya. Pada akhir 1970-an-1980-an, Fraser bahkan mengaku mampu meningkatkan penjualan produknya hingga dua kali lipat setiap tahun.

Sebagai sebuah bidang usaha, perjalanan bisnis Fraser juga pernah di ambang kehancuran, terutama ketika para pelanggan merasa bahwa produk yang ditawarkan mulai ketinggalan zaman. Meski demikian, melalui berbagai terobosan, Fraser terus mempertahankan perusahaannya sehingga mampu bertahan hingga sekarang. Berbagai terobosan yang dilakukan di antaranya mengikuti tren warna dan model yang tengah disenangi warga AS. Fraser merasa, selera pasar antara warga AS dan Jerman tak sama. Dia pun berupaya memberikan produk yang sesuai pasar AS, tapi tetap memberikan kenyamanan khas Birkenstock, Jerman.

“Saya melakukan pembicaraan dengan pemilik Birkenstock di Jerman. Saya mendiskusikan selera pasar agar produk kami terus eksis. Ternyata mereka menerima sehingga saya pun bisa mendesain sepatu sesuai dengan pasar di sini,” ujar Fraser.

Sosok Fraser sehingga mampu menjadi pengusaha sukses tak lepas dari pengalaman masa kecil dan dorongan serta teladan dari kedua orangtuanya. Orangtua Fraser dulunya juga berkecimpung di bidang wirausaha. Ayah Fraser dikenal sebagai broker produk-produk pertanian.

“Saya hanya seorang anak kecil di Berlin saat Hitler berkuasa. Ayah saya seorang broker produk pertanian. Orangtua saya memiliki pandangan berbeda dengan rezim berkuasa dan mengatakan kepada saya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun keyakinan sebenarnya yang kami miliki. Karena waktu itu situasinya amat berbahaya,” papar Fraser.

Meski hidup pada zaman kekuasaan Hitler, Fraser tetap mendapat bekal pendidikan yang memadai. Bekal pendidikan inilah yang juga turut mengantarkan kesuksesan Fraser seperti sekarang.

“Saat saya berusia 14 tahun, saya belajar membuat baju di sekolah,” ungkapnya.

Bekal pengetahuan membuat baju ternyata memberikan manfaat bagi Fraser, terutama saat ayahnya memutuskan untuk meninggalkan Berlin menuju Bremen, enam bulan sebelum perang usai. Di tempat tinggal barunya, Fraser membuat baju bagi para istri petani di mana dia dan ayahnya tinggal. Baju-baju tersebut ditukar dengan telur dan mentega. Setelah perang selesai, Fraser lalu melanjutkan sekolahnya di bidang desain baju di Kanada. Sebenarnya Fraser ingin menuju Amerika Serikat (AS), tetapi karena kemungkinan sulit mendapatkan kewarganegaraan AS, dia memutuskan ke Kanada.

“Saya membaca surat kabar bahwa Presiden Jerman Club di Toronto adalah seorang pengusaha baju. Saya menulis surat kepadanya dan dia memberikan jawaban bahwa saya bisa tinggal bersamanya empat bulan,” tutur Fraser.

Di Kanada, kehidupan Fraser berjalan dengan penuh dinamika. Dia mendapat banyak bekal dan pelajaran bisnis. Kemampuannya mendesain baju pun semakin berkembang. Itu tak lepas dari perkenalannya dengan seorang pengusaha baju yang akhirnya memutuskan untuk mempekerjakannya.

Pengembaran Fraser di bidang usaha mencapai titiknya saat menemani suaminya yang seorang importir asal San Francisco ke Jerman pada 1966 di mana dia berkenalan dengan produk Birkenstock. Sekarang Fraser telah menjabat sebagai CEO dan bagi para perempuan seusianya, dia merasa Birkenstock adalah produk yang paling pas.

———————>>>>>>>>>>>
Menjadi Miliuner Berawal dari Angpao
Senin, 21 Desember 2009 – 10:05 wib
text TEXT SIZE :
Ma Wenya (Foto: Xinhua)

Penampilannya tidak menunjukkan bahwa dia merupakan profesional muda atau investor ulung. Lebih bergaya seperti anak kuliahan, tetapi nilai kekayaannya mencapai 5 juta yuan (USD732.500 atau Rp7,1 miliar).

Dialah Ma Wenya (21). Ketika lulus kuliah nanti, Ma tidak perlu pusing-pusing mencari pekerjaan. Hingga saat ini, Ma masih berstatus mahasiswa di Communication University of China (CUC) Beijing jurusan analisis pasar media. Tahun ini merupakan tahun terakhirnya duduk di bangku kuliah.

Di sela-sela kuliahnya, Ma memiliki sepak terjang di dunia bisnis. Dia bermain saham di bursa. Pria berkacamata itu juga ikut andil dalam bisnis properti. Jurus gerak cepat pun diterapkannya untuk mengumpulkan pundi-pundi keuntungan. Takdir berpihak dengan cepat kepada Ma sehingga 5 juta yuan dapat diraih sebelum dia mendapat gelar sarjana.

“Saya pindah bersama orangtua saya ke Shanghai dari Henan pada 2002. Yah, seperti kebanyakan orang lain, saya melihat bahwa Shanghai merupakan tempat di mana kekayaan itu berada. Saya melihat bahwa banyak orang kaya dengan uang dan mobil,”paparnya seperti dikutip dari Global Times.

“Ketika itu, saya pun bermimpi bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi salah seorang dari orang kaya di Shanghai,” papar Ma.

Kata Ma, semuanya berawal dari mimpi untuk menjadi orang kaya. Itu yang menjadi semangat untuk maju dan berkembang. Dengan mimpi itu, semua orang akan menyatukan niat dan perbuatan untuk meraih cita-cita tanpa memandang risiko yang ada di depan mata. Berawal dari mimpi itulah Ma memberanikan diri menginvestasikan uangnya pada 2003.

Ketika itu, Ma baru berusia 15 tahun. Uang senilai 20.000 yuan (Rp28 juta) itu dikumpulkannya dari angpao saudara-saudaranya selama perayaan Tahun Baru China. Ma berusaha meyakinkan orangtuanya agar mengizinkan dia menginvestasikan uang itu untuk membeli sebuah vila di distrik Minhang, Shanghai. Ketika itu, harga per meter persegi mencapai 4.000 yuan.

Setelah berinvestasi, Ma tidak berhenti sampai di sana. Dia selalu memantau investasinya. Dia pun selalu membaca berita keuangan lokal untuk mengetahui isu-isu terbaru serta rumor yang berkembang. Ketika teman-temannya masih sibuk bermain dan jatuh cinta pada pandangan pertama, Ma justru asyik memantau perkembangan investasi vilanya.

Ma yakin bahwa vilanya bakal mendatangkan keuntungan. Kenapa? Ketika itu, Ma berpikir bahwa lokasi vilanya sangat strategis dan bergaya arsitektur Barat yang sedang populer. “Vila itu memang benar-benar selera saya. Orangtua saya pun sepakat untuk merestui saya membeli vila tersebut dan ikut membantu pembayarannya,” katanya.

Tanpa pemahaman mengenai keuangan dan bisnis properti, Ma pun menasihati orangtuanya untuk menjual vila itu satu tahun setelah pembelian. Nah, nilai per meter persegi vila itu mencapai 8.000 yuan atau dua kali lipat dibandingkan pada waktu pembelian. Akhirnya, Ma pun mendapatkan keuntungan senilai 80.000 yuan dari investasinya.

“Saya sangat senang dengan keuntungan pertama yang diraih. Saya pun berpikir begitu pentingnya untuk hidup mandiri,” papar Ma.

Dengan keuntungan itu, Ma pun terus mengkaji dan mempelajari kesempatan investasi selanjutnya. Di sela-sela beraktivitas rutin di SMA, Ma melihat peluang untuk kembali berinvestasi di dunia properti.

“Saya berinvestasi di 10 proyek properti di Shanghai dalam jangka waktu selama tiga tahun. Semuanya menghasilkan keuntungan, tak ada yang merugi. Pada saat saya masih SMA, bisnis properti masih berjalan dengan normal,” cerita Ma.

Ketika lulus SMA, Ma pun telah mengumpulkan kekayaan senilai 500.000 yuan. Prestasi Ma di SMA tergolong biasa-biasa saja. Tak ada yang menonjol. Ma beralasan bahwa waktunya justru lebih banyak untuk mempelajari ilmu ekonomi dan keuangan sehingga nilai-nilai kelasnya sering melorot. Namun, kata Ma, itu adalah risiko dari sebuah pilihannya untuk bermain-main di dunia properti.

Akibatnya, nilai ujian Ma untuk masuk universitas terendah di kelasnya. Ma pun memilih kuliah di CUC pada 2006. Dia mengambil jurusan penelitian pasar media karena memberikan banyak waktu luang baginya untuk fokus pada investasi. Bisa dikatakan, Ma memang lebih fokus terhadap investasinya dibandingkan kuliahnya. Bagi dia, kuliah tetap penting sebagai bekal, investasi adalah segalanya untuk masa depan. Kadang kepercayaan diri yang berlebihan juga memberikan pelajaran yang sangat berharga. Itu pula yang dialami Ma. Ketika tahun pertamanya di kampus, Ma mengubah pola investasinya dari bisnis properti ke pasar modal.

Berbeda dengan pengalaman pertama investasi propertinya meraih keuntungan, pengalaman pertama investasi di pasar modal justru mengalami kerugian cukup besar. “Sebenarnya saya telah mulai berinvestasi di pasar sudah sejak SMA. Namun, ketika itu hanya buat senang-senang saja,” ujar Ma seperti dikutip dari Xinhua.

Baru ketika kuliah, dia ingin fokus di investasi pasar modal. Pada akhir 2007, Ma justru mengalami kerugian 200.000 yuan dari total investasinya 500.000 yuan. Namun, potensi kerugian itu tidak berlangsung lama. Dengan pengalaman itu, Ma pun bersikap hati-hati dalam merumuskan investasi di pasar modal.

“Nilai saham-saham saya mulai merangkak naik. Saya merasa di atas kepala dan memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam dunia investasi,” katanya.

Tak ada pahlawan yang memenangi 100% medan pertempuran. Setelah beberapa kali kekalahan di bisnis pasar modal, Ma memilih beristirahat sejenak sambil menunggu kesempatan untuk kembali ke panggung investasi. Pada tahun ini, Ma memilih kembali berinvestasi di dunia properti. Dia melihat ada peluang yang menguntungkan di Xianghe, Provinsi Hebei, China. Dia pun membeli dua vila dari seorang investor.

“Ketika itu, saya hanya memiliki uang 500.000 yuan dan tentunya tidak bisa berinvestasi di Beijing,” katanya.

Jatuh bangun dalam investasi yang dilakukan Ma menjadikannya dia lebih tegar dan berani dalam melangkah. Risiko yang sangat tinggi dalam bisnis keuangan tidak membuat mata Ma terus menutup dan berhenti untuk melompat lebih tinggi.

Selain memiliki naluri bisnis yang kuat, Ma juga mengandalkan bakat alamiah sebagai modal untuk mengetahui bagaimana mendapatkan keuntungan.

————————>>>>>>>>>>>]
Elinor Ostrom Wanita Pertama Pemenang Nobel Economics
Selasa, 13 Oktober 2009 – 09:23 wib
text TEXT SIZE :
Rani Hardjanti – Okezone
Foto: AFP.

STOCKHOLM – Elinor Ostrom dan Oliver Williamson mendapat Nobel Economics Prize (Nobel Ekonomi 2009). Kemenangan Ostrom sekaligus menorehkan sejarah pertama kalinya seorang wanita menyabet Nobel Ekonomi.

Elinor Ostrom meraih gelar bergengsi ini, terkait penelitian yang dilakukannya mengenai upaya untuk mengatasi perubahan iklim dan kebangkitan dari krisis ekonomi.

Bersama dengan pemenang nobel dari kategori lainnya, Ekonom ini akan mendapat hadiah sebesar USD10 juta (1,42 juta dolar dan 980.000 euro). Tahun ini Nobel Ekonomi merupakan yang terakhir diumumkan, dibanding lima penghargaan yang lain.

Nama Ostrom sebenarnya sudah santer beredar sebagai pemenang nobel bidang ekonomi. Lantas, kabar burung itu menjadi benar adanya. “Ini suatu kejutan yang sangat mengejutkan. Sangat luar biasa,” tuturnya seperti dikutip dari AFP, Selasa (13/10/2009).

“Saya pikir kita sudah memasuki era baru dan penghargaan nobel ini mengakui bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan ilmiah yang besar. Sebagai wanita pertama, saya pikir ini sebuah kehormatan. Saya berharap, saya bukan wanita terakhir peraih nobel,” katanya kepada wartawan ketika ditanyai mengenai kemenangannya.

Ostrom menggambarkan dirinya sebagai seorang ilmuwan politik, bukan seorang ekonom. Dia adalah profesor dari Indiana University. Dari univesitas almamaternya inilah dia melakukan penelitian.

Karya ilmiahnya terinspirasi oleh langkah yang dilakukan ibunya pada Perang Dunia II. Kala masa sulit itu, ibunda Ostrom bukannya lari menyelamatkan diri namun justru memberikan dorongan bagi para tentara. Sang ibunda memberikan makanan bagi pasukan Sekutu. Kekacauan situasi ini ternyata sama dengan kondisi kekacauan ekonomi yang terjadi sejak 2008 lalu akibat kredit macet Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di Amerika.

Dalam penelitiannya, dia menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam (SDA) secara natural. Karena, SDA adalah kebutuhan khalayak banyak. pengelolaan sumber daya alam seperti hutan, danau, dan populasi ikan oleh komunitas lokal, lebih baik dilakukan secara natural daripada ada campur tangan pihak luar, termasuk birokrat.

Ostrom menuturkan, dia telah melakukan penelitian bagaimana penduduk lokal bersama pemerintah menyelesaikan permasalahan yang sulit. “Ketika masing-masing individu bekerja sama, membangun kepercayaan dan rasa respek maka mereka bisa keluar dan menyelesaikan masalah,” imbuh dia.

Menurut Komite Nobel, penelitian yang dilakukan Ostrom ini membuka sisi lain mengenai krisis ekonomi. “Penelitiannya mengandung gagasan yang menantang. Bahwa properti umum saat ini kurang dikelola baik baik oleh pemerintah pusat atau swasta,” kata salah satu juri yang tidak disebutkan namanya.

Selain Ostrom, ekonom Oliver Williamson juga dinobatkan sebagai pemenang Nobel Ekonomi. William mengembangkan teori bahwa bisnis berfungsi sebagai struktur untuk resolusi konflik. Akademisi di University of California ini mengajukan tawaran berupa organisasi hierarkis seperti yang mewakili struktur pemerintahan alternatif, yang berbeda dalam pendekatan terhadap penyelesaian konflik kepentingan.

Upacara penganugerahan nobel yang akan digelar di Oslo, Norwegia, 10 Desember mendatang. Selain Ostrom dan William, Pesiden Amerika Serikat Barack Obama juga diumumkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian.

Elinor Ostrom lahir pada 7 Agustus 1933. Selain jabatan akademis sebagai profesor di Universitas Indiana, wanita mandiri ini juga dikenal sebagai pendiri sekaligus pimpinan Pusat Studi Keberagaman Institusional di Arizona State University.

Adapun Oliver Williamson lahir pada 27 September 1932. Dia merupakan penulis ekonomi terkemuka AS. Williamson menyandang gelar profesor dalam ilmu administrasi bisnis,ekonomi,dan hukum di University of California. Sebagai ilmuwan di bidang ekonomi, dia kerap meneliti serta rajin menulis jurnal dan artikel ekonomi.

——————–>>>>>>>>>>>>
Sukses Meski Putus Sekolah
Senin, 8 Februari 2010 – 09:07 wib
text TEXT SIZE :
Carl Lidner. (Foto : Ist)

NEW YORK – Kesuksesan tak selalu berkorelasi dengan pendidikan. Banyak orang yang sukses di bidang masing-masing seperti di dunia mode, hiburan, bisnis meski tidak memiliki gelar akademis.

“Kemampuan seorang dilihat dari kualitas ide yang melebihi pengalamannya,” ungkap Brad Burke, Direktur Rice University’s Rice Alliance for Technology and Entrepreneurship seperti dikutip Forbes pekan lalu. Forbes melaporkan jutawan dunia yang sukses dalam bidang masing-masing. Mereka sukses karena dirinya sendiri, bukan karena pendidikan ataupun konsultan yang mengarahkannya. Majalah ekonomi itu memublikasikan mereka yang menjadi jutawan meski tidak lulus bangku sekolah menengah. Mereka di antaranya Carl Lindner, Jay-Z, George Foreman, dan Simon Cowell.

Jay-Z, pria yang bernama asli Shawn Carter ini merupakan salah satu penyanyi terkenal. Dulu dia tidak mampu menamatkan pendidikan di sekolah menengah. Jay-Z pernah tinggal di Brooklyn yang dikenal sebagai kawasan kumuh di Amerika Serikat (AS). Pada 1995, dia mulai bernyanyi dengan memakai nama komersial Jay-Z. Pada 2008, dia menandatangani kontrak selama 10 tahun dengan Live Nation senilai USD150 juta. Dari kalangan olahragawan dikenal George Foreman yang merupakan petinju kelas berat. Pria kelahiran Texas itu putus sekolah di usia 15 tahun sebelum akhirnya diarahkan oleh seorang mentor untuk berlatih tinju.

Pada Olimpiade 1968,Foreman berhasil meraih medali emas sebagai petinju amatir. Setelah sempat menekuni profesi sebagai petinju profesional, dia beralih ke dunia bisnis.Pada 1999,dia berhasil mengikat kontrak dengan produsen alat pemanggang daging, Salton, senilai USD138 juta. Kini Foreman merupakan pengusaha yang menggeluti bisnis mulai dari produk perawatan kesehatan, makanan hingga sepatu. Dari dunia hiburan ada Simon Cowell yang dikenal dengan komentar pedasnya di American Idol. Setiap tahun, dia mampu menghasilkan uang USD75 juta dari profesinya sebagai produser. Padahal, dia itu putus sekolah di usia 16 tahun.

Adapun dari dunia mode terdapat nama Gisele Bundchen. Dia ditemukan pemandu bakat saat berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di Brasil pada usia 14 tahun. Dia akhirnya meninggalkan bangku sekolah demi menekuni profesi sebagai fotomodel. Kini, Bundchen dikenal sebagai peragawati papan atas dunia. Pada 8 Desember 2009 lalu, fotomodel berusia 29 tahun ini baru saja melahirkan anak pertamanya, Benjamin, yang merupakan buah cintanya bersama bintang olahraga Tom Brady.Meskipun kehamilan telah membuat supermodel ini meninggalkan catwalk untuk beberapa waktu, Bundchen masih mengungguli peragawati lainnya.

Dari kalangan bisnis ada nama Carl Lindner yang terpaksa harus keluar dari sekolah pada usia 14 tahun karena harus keliling mengantarkan susu kepada pelanggannya. Tempaan keras dalam bisnis membuatnya berani membuka toko es krim dengan modal USD1.200. Alhasil, toko tersebut memberikan rezeki berlimpah kepadanya dan akhirnya dia mendirikan American Financial Group. Lindner pun dikenal sebagai distributor pisang di Amerika Serikat (AS). Selanjutnya David Murdock. Dia meninggalkan sekolah dan memilih bergabung menjadi anggota militer pada 1943 dan pindah ke Detroit setelah Perang Dunia II.

Pada 1985,dia mengambil alih perusahaan makanan Dole Food dan perusahaan properti dari Hawaii Castle & Cooke. Pada Oktober 2009, Dole dilempar ke bursa saham. Nilai kekayaan Murdock mencapai USD3,5 miliar. Jutawan lainnya dari kalangan bisnis adalah Richard Branson. Awalnya pada usia 20 tahun, dia mendirikan perusahaan perekam suara Virgin. Kemudian, dia membuka toko rekaman dan studio. Album pertama Virgin Records laku terjual lebih dari lima juta kopi.

Pada usia 27 tahun, Richard menandatangani kontrak dengan The Sex Pistols untuk label Virgin Records setelah kelompok itu menolak sebuah label terkenal di Inggris. Selama bertahun-tahun, Branson pun menandatangani banyak kontrak dengan para megabintang, termasuk Steve Winwood, Paula Abdul, Belinda Carlisle, Genesis, Phil Collins,Peter Gabriel, Simple Minds, The Human League, Bryan Ferry,Culture Club,Janet Jackson, dan The Rolling Stones. Branson berhasil mengubah Virgin Music Group menjadi perusahaan besar. Kini, Virgin merupakan pencapaian terbesarnya selama kurun waktu lebih dari 40 tahun berbisnis.

Virgin memiliki 200 anak perusahaan di 30 negara. Pada 2005,Branson merancang Virgin Galactic. Dengan pesawat ruang angkasa ini, perjalanan ke antariksa bukan lagi dominasi para kosmonot dan astronot. Semua orang yang mampu membayar tiket bisa pula merasakan melayang di kehampaan tanpa gravitasi. Setelah membuat SpaceShip- One yang berkapasitas tiga orang, kini dia merancang SpaceShipTwo yang berkapasitas 6 orang. Dengan panjang 60 kaki, pesawat ini punya kabin yang luas dan lebih banyak jendela.

Sebenarnya itu merupakan kelanjutan Branson yang sukses melintasi samudra dengan balon udara.Pada 1991, misalnya,Branson menyeberangi Lautan Pasifik dari Jepang ke Kutub Utara di utara Kanada. Branson selalu mewujudkan mimpi petualangan itu menjadi bisnis yang menguntungkan.

—————————>>>>>>>>>>>>>>
Peliharaan yang Menghasilkan Uang
Sabtu, 16 Januari 2010 – 11:09 wib
text TEXT SIZE :
ikan kecil jenis garra rufa.( Foto: rikadan rekan.com)

FISH spa theraphy, pada awalnya memang banyak yang salah mengira tempat spa itu adalah tempat menjual ikan. Cukup dimaklumi karena di tempat itu terdapat dua buah bak berukuran besar yang di dalamnya terdapat ikan-ikan kecil jenis garra rufa. Ikan-ikan itulah yang digunakan sebagai alat spa. Unik bukan?

Tentu saja bermula dari rasa penasaran itu kemudian pengunjung semakin ingin tahu dan tertarik untuk mencoba spa dengan ikan ini. Owner fish spa, Andri Salim, menuturkan, ide mendirikan salon spa ikan ini didapatkan setelah melihat beberapa salon kecantikan di luar negeri yang menggunakan ikan sebagai metode terapisnya. Terlebih, Andri sangat tertarik memelihara ikan.

”Mereka (ikan garra rufa) ini adalah peliharaan saya yang mampu menghasilkan uang, mempercantik kulit,sekaligus mengusir stres. Beda kalau saya mendirikan salon. Kalau begitu, saya harus keluar modal untuk mengaji karyawan. Dengan ikan ini, semua ikan yang mengerjakan,” jelasnya.

Menurut Andri, ikan yang dipakai juga ikan khusus perawatan, yang digunakan didatangkan langsung dari Kota Bandung. Karena merawat ikan tidak selalu mudah, Andri juga harus menggunakan sistem ozonisasi dalam kolam agar ikan-ikan terapis ini dapat bertahan hidup lama.

Dia mengatakan, ikan garra rufa aslinya hidup di sungaisungai di negara Timur Tengah, seperti di Turki, Syria, Iran, Irak. Umurnya empat hingga enam tahun dengan panjang maksimal 12 cm.

“Khusus ikan yang digunakan untuk terapi adalah ikan yang masih kecil, berumur tiga hingga enam bulan, umumnya memiliki panjang 1,5 – 2 cm. Ikan ini dapat hidup pada air dengan suhu 0 – 43 derajat celsius,” jelasnya. Dia menceritakan, pada masyarakat Turki, spa bersama ikan ini sudah dikenal sejak 200 tahun lalu.

Namun, fish therapy ini baru marak dikenal di Asia, Eropa, dan Amerika sejak 2006. Pada awal penemuannya, kata dia, ikan ini disangka sebagai ikan pemakan daging. Pada waktu itu, saat sekelompok orang berada di Sungai Kangal, Turki, ikan-ikan ini mengerubungi kaki mereka.

“Tetapi, mereka tidak mendapati kaki mereka terluka. Bahkan, mereka merasakan tubuh terasa lebih segar. Itulah, awal mulanya sehingga ikan ini akhirnya dijadikan salah satu terapi untuk menyembuhkan penyakit,” katanya.

Menurut dia, cara merawat ikan ini pun tergolong mudah,cukup dengan menyediakan wadah yang sesuai dengan ukuran ikan. Lalu, yang perlu diutamakan filter (penyaring air) yang bagus atau bisa juga mengganti airnya, untuk tambahan menggunakan heater untuk mengatur suhu 30 derajat.

“Memberi makan ikan ini dua kali sehari. Ikan ini selain memakan jaringan sel kulit mati manusia, juga mau mengonsumsi cacing beku,“ katanya.

Pelanggan yang ingin menikmati perawatan spa ikan cukup mencelupkan kakinya di sebuah akuarium yang sudah diisi ratusan ikan kecil. Ikan-ikan inilah yang akan membersihkan sel-sel kulit mati dari kaki Anda.

”Selain itu, gigitan ikan garra rufa kecil juga bisa melancarkan peredaran darah dengan menstimulus titik-titik akupunktur di telapak kaki,” katanya.

Selain itu, fish spa juga bermanfaat untuk menghilangkan stres, mengobati kulit pecah-pecah pada kaki, serta merangsang pertumbuhan kulit baru.

”Pelanggan yang datang ke tempat ini bisa melepaskan kelelahan dan merasa lebih rileks setelah melakukan perawatan spa ikan selama 20 menit,”ungkapnya Tak hanya itu,setelah melakukan perawatan spa ikan, para pelanggan juga masih mendapatkan pijatan dengan scrub khusus untuk memberi nutrisi bagi kulit.

Komentar»

1. dann - April 22, 2009

hello dre……
save my web, please!!

andrewiwanto - April 25, 2009

Yoi. Thanks

2. nobi - Mei 8, 2009

salut d ndre…maju teruss pantang mundur!!!

andrewiwanto - Mei 10, 2009

Ok2, makasih ya. sukses jg ya buat kamoe..ok2
thanks a lot

3. blackersonic - Juli 13, 2009

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.